What Are You Alive For?
oleh : Sintia Intan Agsari (Tiachan)
oleh : Sintia Intan Agsari (Tiachan)
Jika kita tak pernah tau kemana arah tujuan hidup kita, kita akan hidup selayaknya bermain bola tanpa gawang. Dimanapun bola itu ditendang, tak akan pernah membawa pada tujuan. Bagiku, hidup adalah hutang dan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Sudah sepantasnya kita membayar kesempatan hirupan nafas kita ini dengan amal. Bicara tentang amal, amal bukanlah sekedar tuntas menunaikan rukun islam, tapi juga tentang keoptimalan kita dalam menstimulasi kebaikan.
Akhir-akhir ini banyak orang yang membuat jutaan tujuan hidup, namun hanya terukur dari sekedar "kata-kata" saja, bahkan jalan untuk menujunya cenderung lupa dan sengaja dibuat stag seperti orang pada umumnya. Jika kita benar-benar memaknai urgensi menentukan tujuan hidup, pastilah kita akan menyusun rapi dan jelas step by step jalan untuk menempuhnya.
Sebagai seorang muslim, tentu tujuan hidup terbesarnya adalah "Syurga". namun apakah hanya berhenti dititik itu saja? sangat malu rasanya, jika kita berteriak lantang bahwa saya muslim, namun tidak pernah mengkongkritkan jalan-jalan mana yang akan kita tempuh untuk mencapai Syurga Nya. apakah kita telah menentukan jalan mana yang akan kita ambil selama kesempatan hidup yang diberikan oleh Tuhan? Jika kita memang serius menginginkan Syurga, kongkritkan cara menujunya. Kita ingin masuk Syurga lewat pintu mana? Pintu ahli puasakah? Pintu berbakti pada orang tua kah? Pintu Berbagi pada sesamakah? kongkritkan dari sekarang, dan mulailah eksekusinya.Ketika ingin masuk Syurga sebagai ahli puasa, ya serius puasanya, ketika ingin lewat berbagi pada sesame, maka tularkan jutaan stimulus kebaikan pada banyak manusia. Terkadang seorang muslim ingin masuk Syurga namun belum jelas jalan yang ingin diambilnya. Semangat menjadi pemuda yang dirindukan SyurgaNya
Comments
Post a Comment